Argumentum e Silentio, Tidak Terlihat Bukan Berarti Tidak Ada

Dalam berpendapat kita harus menyuguhkan fakta dan data yang akurat. Keberadaan saksi dan bukti nyata salah satu yang memperkuat argumentasi. Tanpanya bangunan teori akan rapuh dan akan mudah sekali ditolak.

Zaman ini adalah era keterbukaan informasi. Kabar dari satu wilayah yang jauh dalam hitngan detik sudah bisa diterima di daerah yang lain. Berargument dan mengemukakan pendapat sangat bebas untuk dilakukan.


Beragam cara orang berpendapat. Ada yang tertib dan sistematis disertai dengan dalil-dalil yang kuat. Bahasa yang sopan dan tekanan intonasi yang pas menamabah qualitas diskusi yang sedang berlangsung.

Ada juga orang yang berargumen dengan mengutip dalil sana sini. Yang tidak ada sangkut pautnya dengan topic pembahasan dipaksakan agar terlihat cocok dengan tema pembahasan.

Diantara cara berargumen yang kacau adalah apa yang diistilahkan dengan Argumentum e Silentio. Ungkapan ini mengandung pengertian kesimpulan meniadakan yang sesuatu gara-gara ketiadaan bukti.

Contoh; ketika Tuhan itu tidak dapat terlihat dengan mata kepala, maka itu berate tuhan itu tidak ada, hal itu karena tidak ada bukti adanya tuhan, dan bukti paling rendah untuk keberadaannya adalah minimal ada yang pernah melihat Tuhan. Karena tidak ada bukti bahwa ad seseorang yang pernah melihat Tuhan berarti Tuhan itu memang tidak ada. Kesimpulan ini dinamakan Argumentum e Silentio. Yaitu argumentasi berdasarkan ketiadaan bukti. Padahal tidak selalu yang tidak ada buktinya berarti tidak ada. Mungkin saja buktinya tidak ditemukan atau terhalang sementara oleh perkara yang lain.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.