Antara Pengungsi Rohingya dan Beras Plastik

Kabar tentang tentang para pengungsi Rohingya sungguh sangat memilukan hati. Mereka berjuang untuk melangsungkan hidup sementara kematian ada di depan mata. Terusir dari negeri sendiri dan mengira ada keamanan untuk mereka di negeri orang. Mereka haus, lapar dan terancam dan berharap di tanah Milik Tuhan yang lain ada kehidupan buat mereka.

Saya dapat membayangkan betapa beratnya perjuangan yang mereka lakukan. Ayah dan kakak saya adalah nelayan. Mereka biasa berlayar berhari-hari di laut. Tapi untuk berlayar dengan bekal seadanya tidak pernah mereka lakukan. Etnis Rohingya berlayar tanpa bekal memadai dan bukan hanya berhari-hari tapi berbulan-bulan.
Lihat juga cara membedakan beras asli dan palsu

Saya mendengar cerita bahwa dengan kondisi badan yang kurang mendapat asupan makanan sementara ia berada di laut maka kita akan cepat sakit. Ini telah terbukti. Lalu bagaimana dengan keadaan mereka yang seperti itu.

Mereka kekurangan makanan, minuman, dan obat-obatan. Sedih rasanya melihat anak-anak yang tidak begitu tahu kemana mereka akan dibawa orang tuanya. Dan memang orang tuanya pun tidak akan mampu menjelaskan mereka akan ke mana. Rupanya mereka berjuang dengan iman. Mungkin yang mereka yakini adalah semua tanah adalah milik Allah dan manusia ini semua adalah makhluqnya. Bila mereka tidak dapat kedamaian di satu negeri maka mereka akan mencari negeri lainnya yang lebih damai.

Sementara itu masyarakat Indonesia diresahkan dengan adanya beras palsu dari plastik yang sudah beredar di pasaran kalau kejahatan sudah merambat kepada urusan bahan makanan pokok berarti ini merupakan kejahatan besar. Saya berharap ini sebagai peringatan dari Allah.

Di sisi lain saya juga sedih bila ini merupakan bentuk lain dari hukuman yang disegerakan di dunia atas ketidak pedulian sebagain masyarakat Indonesia atas bangsa lain yang dilanda kelaparan, kehausan, dan rasa takut. Satu hari sebelum saya tulis catatan ini, kami berkumpul di kelas Quran - Hadits dan tepat sekali membahas tentang hal ini. Kita akan diuji dengn 5 hal. Yaitu ketakutan, kelaparan, sedikitnya harta, terancam jiwa, dan tiadanya buah-buahan.

Saya sangat takut Allah sengaja mengutus orang-orang untuk berbuat makar dan menyelundupkan beras plastik itu sebagai hukuman atas kejahatan kita selama ini. Lihat saja di ayat qur'an tadi ada disebut tentang kelaparan dan tiadanya buah-buahan. Belum lama ini kita dengar bahwa buah-buahan yang ada di pasaran Indonesia terkontaminasi viru. Kalau buahnya ada tapi tidak bisa dimakan sama saja dengan tidak ada. Nah sekarang beras itu berasal dari buahnya padi. Bila padinya ada tapi susah atau ada tapi bercampur dengan yang palsu, maka sama saja kita kelaparan dan satu lagi kita sedang merasa tidak aman dan resah selalu. Sedangkan bila kita kekurangan pasokan makanan itu sama saja nyawa kita sedang terncam.

Astaghfirullahal'azhim ... Ya Allah dekatkanlah kami kepadaMu

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.