Action Speacs Louder

Bila kita melihat teman yang rajin mengkritik orang tentang sesuatu dengan kritiknya yang pedas maka kita lumayan agak rishi. Tapia da yang lebih tidak mengenakan di hati bila ternyata yang sering mengkritik dengan kersa itu malah lebih sering melakukan hal yang ia sendiri tidak setuju. Dari sini terkadang kita jengah …

Atau bila kita lihat di televise ada orang yang selalu diundang sebagai nara sumber dalam rangka membahas moral bangsa. Daya analisisnya sangat dalam. Ia bahkan selalu menghadirkan sudut pandang baru setiap kali diminta pendapat. Sangat lancer ia memberikan masukan dan kritikan yang ia lontarkan semuanya tepat sasaran. Namun sesaat waktu berlalu kita mendengar kabar bahwa sang nara sumber ternyata melakukan juga hal jahat yang belum lama ini ia kritik. Perasaan kita jadi nyesek.

Ang paling membuat hati terguncang adalah bila yang seharusnya menegakkan hukum setegak-tegaknya agar kehidupa bangsa bisa berdaulat. Namun ternyata malah mereka yang mencoreng wajah bangsa. Sampai nanti coretan buruk pada wajah bangsa menyisakkan tanda ynag kurang baik.

Lalu bagaimana dengan kita … ?

Nah ini yang penting. Dalam bermasyarakat kita harus ‘sauyunan’ artinya bersatu padu ‘rempug jukung’ setiap orang ikut ambil bagian dalam melaksanakan tugas dan peran masing-masing. Semua aktif dalam mensukseskan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.
Sementara kita harus punya peran dalam masyarakat, kita juga harus berusaha meningkatkan kualitas diri kita. Semua pengetahuan mengenai moral dan akhlak, sifat-sifat mulia yang harus dimiliki, sikap-sikap unggulan yang harus kita lakukan, karakter tangguh dan baik kita asah hingga melekat dengan kedirian kita. Kita sadar bahwa diri kita harus sampai pada tahap layak didengarka pembicaraannya, pantas dilaksanakan nasihatnya, patut ditauladani amal perbuatannya. Berpikir untuk kelayakan seperti itu harus diniatkan sebagai tanda syukur atas anugerah Allah swt bukan ajang riya dan pamer kebolehan. Namun semua adalah atas niat suci.

Sebagimana kita merasa jengah dengan orang yang ‘omdo’ atau orang yang suka omong doing, maka kita jangan begitu. Seharusnya sebelum bicara yang baik-baik kita harus terlebih dahulu melakukan yang baik-baik itu. Bila tidak bisa-bisa kebaikan akan dianggap tidak baik bukan karena itu tidak baik, tapi mereka tidak melakukannya bisa jadi gara-gara kita yang ‘omdo’.

Bisa juga bila memang kita belum bisa melakukannya dan kita harus bicarakan itu, maka sebaiknya setelah berbicara tentang amalan-amalan baik kita segera lakukan perbuatan itu dan niatkan untuk lebih banyak melakukan kebaikan.

Ini renungn pribadi Kang Aip saja … Mengenai kebaikan Kang Aip belum bisa berbuat dan berkata banyak. Karena kata pepatah; “Faaqidussyai-I laa yu’thii.” Artinya apa ? bahwa yang tidak punya tidak akan bisa memberi … hehe

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.