20 Prinsip Tebar - Tuai dalam Peribahasa Jawa

Dalam kearifan lokal orang Indonesia banyak sekali ajaran-ajaran yang mendalam maknanya. Diantara gaya bertutur dari filsafat-filsafat itu bergaya kausalitas atau dalam bahasa motivasi disebut hukum Tebar - Tuai. Berikut ini beberapa di antaranya;

Ajining Dhiri Ana Lathi

Harga diri seseorang bergantung pada perkataan yang diungkapkannya. dengan ini setiap kita harus berusaha mengontrol perkataan kita. Sebaiknya perkataan itu dipikirkan terlebih dahulu sebelum diucapkan. Jangan sampai menyakiti hati orang lain dan mencoreng nama baik pihak lain.

Ajining Raga Ana Busana

Harga diri kita sebagai manusia yang beragama, berbudaya, dan bermasyarakat bergantung juga dari cara kita berbusana. Ada peribahasa 'Nagara mawa tata, Desa mawa cara.' Jadi kita harus tahu juga cara kita berbusana dan harus tepat momentnya.

Ajining Awak Ana Tumindhak

Harga diri manusia yang utama ditentukan bagaimana ia bertindak dan berprilaku. Haruslah setiap kita menguasai diri dan mengontrol setiap tindakan akan kita lakukan. Satu perbuatan buruk yang menyakitkan dan melanggar norma masyarakat akan meruntuhkan harga diri kita.

Anak Polah Bapak Kepradhah

Bila anak melakukan kesalahan maka orang tua juga kebagian akibat buruknya. Dengan ini tingkah laku kita meskipun setiap manusia itu punya kebebasan dalam bertindak namun kita harus ingat bahwa perbuatan kita tidak selamanya bebas dari akibat trhadap orang lain. Jadi imbas perbuatan kita juga dirasakan oleh orang lain, baik atau buruknya. Bila anak melakukan perbuatan buruk maka orang tua harus evaluasi diri barangkali itu merupakan kelakuan diri kita.

Goroh growah

Siapa yang berbohong berarti sama dengan menjerumuskan diri ke dalam lembah yang penuh bahaya. Bahaya kebohongan adalah kelanjutannya untuk membohongi yang kedua dan ketiga dan selanjutnya. Kemudian kebohongan itu bencana besar yang tidak hanya akan berdampak kepada individu yang berbohong namun bisa samapi menumpahkan darah jutaan orang. Kebohngan terhadap ajaran agama merupakan fitnah yang paling besar.

Jujur bakal mujur

Ini merupakan ajara universal yang tersebar di seluruh bumi. Barang siapa yang jujur pasti hidupnya akan bahagia. Kejujuran adalah inti setiap ajaran kebaikan dan filsafat kehidupan.

Kesusu kesaru

Peribahasa yang mengingatkan kita agar tidak tergesa-gesa dalam melakukan segala aktifitas. Kita harus efectif, efisien, dan akseleratif. Cepat tapi penuh perhitungan. Kecepatan yang terukur dapat menghasilkan hasil yang baik. Ketergesaan bahkan sering kali membuahkan ketidak berhasilan.

Ladak kecengklak

Orang yang berbuat buruk akan mendapatkan akibatnya. Senjata makan tuan adalah peribahasa dalam bahasa indonesianya. Perbuatan buruk itu mencelakakan orang yang melakukannya tepat saat ia melakukannya. Karena saat ia berbuat itu telah menjauhkan diri dari rahmat Tuhan.

Obah mamah

Barang siapa yang mau berusaha maka akan mendapatkan yang diinginkannya. Melangkah dan melangkah. Berusaha dan berusaha. Maka barang siapa yang mau berkeringat akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan usaha yang dilakukannya.

Obah ngarep ngobet buri

Jika yang di sepan bergerak maka yang belakang akan bergerak juga. Ini menyiratkan bahwa baik buruknya suatu masyarakat sangat dipengaruhi oleh kualitas pribadi pemimpinnya. Pemimpin yang baik akan dapat membawa masyarakatnya menjadi baik. Dan begitu juga sebaliknya.

Sabar subur

Siapa saja yang bersabar maka hidupnya akan bahagia. Semua yang kita lakukan harus disertai dengan kesabaran dan ketekunan. Kesabaran merupakan pondasi yang harus ternanam dalam keimanan yang kuat.

Sapa gawe nganggo, siapa yang bekerja akan bisa berpakaian
Sapa tekun golek teken bakal teken, siapa yang tekun mencari jalan akan sampai ke tujuan.
Sapa ubet ngliwet, siapa banyak akal pasti menank nasi.
Sapa saleh seleh, siapa yang berbuat salah akan mendapatkan akibat buruk.
Sereh pikoleh, siapa yang sabar akan mendapatkan hasil yang baik.
Sapa nandhur ngunduh, barang siapa yang menanam maka akan memanen.

Sapa sengit bakal ndulit

Siapa yang membenci sesuatu akan diuji dengan dibencinya itu. Ia akan dicoba komitmennya terhadap yang dibencinya itu. Dalam kehidupan sehari-hari interaksi dengan yang disukai atau yang tidak disukai adalah niscaya. Terkadang yang kita tidak kita sukai mendadak kita sukai dan kita sangat membutuhkannya.

Sapa wania ing gampan, wedia ing ewuh sabarang nora tumeka

Untuk mencapai kesuksesan kita harus berkorban banyak. Usaha kita harus lebih banyak lagi dari usaha yang lain orang. Bersaing sehat dengan mereka dengan mengerahkan daya dan upaya merupakan kewajiban bagi yang ingin meraih sukses besar.

Sinten ingkang taberi anyakiti sarira badhe sakeca

Peribahasa ini merupakan peribahasa yang menghimpun filsafat idup orang jawa. Dengan tirakat dan mengendalikan batin dan jiwa akan dapat hidup yang nyaman dalam hidupnya. Kebahagiaan hati akan tertanam dalam dirinya. Peribahasa ini dilanjutkan dengan peribahasa di bawah, berikut ini; Sinten ingkang tansah, anakecakaken sarira badhe sengsara

Wani ngalah luhur wekasane

Siapa yang berani mengalah akan mendapatkan akhir yang baik. Mengalah adalah sikap yang membutuhkan keberanian yang besar. Karena mengalah dipandang melepaskan hak dan keuntungan besar.

Watak dora memeting ati

Siapa yang suka berbohon maka atinya akan gelap. Pembohong akan merasakan gelisah yang luar biasa. Ia takut bila kebohongannya terkuak. Terus saja ia dalam tekanan yang tiada henti, hatinya berkabut gelap hingga pmenghalangi pandangan hatinya.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.