Rumah Buat Bunda

Harapan ingin membalas budi baik Mamah dan Bapak belum juga bisa aku lakukan dengan maksimal. Rumah yang ingin aku hadiahkan untuk Mamah dan Bapak tidak jelas kapan akan terwujud. Saya masih hidup besama mereka. Di sebuah rumah panggung kayu yang sudah keropos kayu dan dinding-dindingnya. Sebagian atap ruah kami ini sudah sangat rapuh dan banyak yang sudah jatuh. Hal ini menyisakan banyak celah di atap rumah kami.

Di musim hujan saat ini banyak sudah air yang bisa menembus masuk ke dalam rumah. Banyak kebocoran di sana-sini. Ada rasa sedih dan miris di hati dengan keadaan yang seperti ini. Aku ini sarjana disekolahkan oleh mereka. namun dengan gelar yang aku sandang tetap saja aku sangat bodoh dan tidak mampu berbuat banyak.

Impian untuk membangun rumah baru yang besar luas dan berarsitektur modern tetap ada dihatiku. Saya berharap suatu saat nanti Mamah dan Bapak bisa tertidur dan beristirahat dengan tidak dikhawatirkan dengan ini dan itu. Tidak seperti sekarang yang gelisah takut rumahna roboh dan gelisah karena harus berbenah menadah hujan yang masuk ke dalam rumah. Dan saya berharap mereka bahagia melihatku yang banyak uang, soleh, dan sukses. Saat ini saya tahu mereka khawatir akan keadaanku yang belum mapan dan belum berkeluarga disaat anak-anak dari sahabat-sahabat mereka sudah hidup mapan. Meskipun tidak diucapkan dengan kata-kata, namun saya tahu mereka mengkhawatirkanku. Dan - ya Allah - saya memang masih dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan.

Aku tulis catatan ini bukan bermaksud untuk mengumbar kesediahan, namun hanya untuk meminta mendoakan aku dengan doa tulus kalian agar aku bisa keluar dari kebingingan dan kesedihan lalu optimis menatap masa depan.


logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.