Nasihat Syaikh Sulaiman Al-Jamzuri dalam Kitab Tuhfah Al-Athfal

Kegiatan pengajian sore-sore ba’da Shalat Ashar sebelum jalan-jalan dan olah raga telah berlangsung lama. Kami laksanakan dengan kontinyu dan berkelanjutan. Waktu yang tersedia memang sebentar. Hanya sekitar 30 menit. Namun dari waktu yang terbatas tersebut kami berharap ada kemajuan dalam akhlaq dan ibadah kami.

Sebuah kitab klasik nan berfaedah rajin kami baca. Kitab kecil itu bernama Tuhfatul Athfal. Berisi qaidah-qaidah tajwid. Isinya sangat ringkas dan mudah difahami. Dengan naghmah dan nazham yang berisi rangkaian kata membuat pengajian kitab ini semakin semarak dan seru. Kami bisa merubah-rubah nada dan lagu. Adakalanya lagu klasik yang kami pakai, ada juga lagu-lagu baru yang masuk dalam kaidah Qafiah.

Kata-Kata Hikmah dalam Tuhfatul Athfal

Sekarang kita beralih pada satu bahasan yang agak berbeda. Kali ini saya menyoroti satu hal dari isi kitab ini. Ternyata bila diteliti, selain berisi tuntunan tajwidan dan tilawah Al-Qur’an, kitab ini juga ternyata banyak mengandung petuh yang tentunya sangat bermanfaat bagi kami para santri dan para pengkaji pada umumnya.

Mari akan saya catat beberapa bait dari KItab Tuhfatul Athfal yang berisi kata-kata mutara itu.

Pertama; dalam Bait yang menerangkan ikhfa

صِفْ ذَا ثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَا
دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِي تُقًى ضَعْ ظَالِمًا

Ketika dahulu pertama kali saya hafal bait ini saya sangat kagum dan sering menggunakannya ketika latihan ceramah. Dan sekarang sudah beberapa tahun berlalu kekaguman saya tidak berkurang. Bila hayati kita bisa mengambil beberapa pelajaran, misalnya:

صِفْ ذَا ثَنَا كَمْ Kalimat ini menyuruh kita untuk selalu berbuat dan berakhlak seperti orang-orang yang terpuji. Meneladani orang baik maka kita akan menjadi Baik. Pencetakan karakter baik itu terlebih dahulu harus melekat pada jiwa setiap insan. Dan kita tidak boleh ingin dipuji. Orang yang baik akhlaknya tidak selalu dipuji. Tapi tetap ia terpuji dalam dirinya sendiri. Kalimat ini disusul dengan kalimat كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَا yang menjelaskan bahwa tingginya martabat dan derajat seseorang adalah karena akhlaqnya yang melangit.

Kemudian ada kata;
دُمْ طَيِّبًا yang artinya kita harus mendawamkan atau melanggengkan kebaikan, jangan memutuskan silaturahim. Dan Amalan yang langgeng itu ada tiga yaitu Ilmu yang manfaat, Shadaqah jariyah, dan anak shalih yang mendoakannya. Kemudian amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amal kebaikan yang terus menerus dawam dilakukan meski sedikit-sedikit.

Lalu Syaikh Sulaiman Al-Jamzuri melanjutkan dengan;
زِدْ فِي تُقًى ini bermakana –wallahu a’lam – kita harus selalu menambah ketaqwaan kita dengan amal-amal ibadah. Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa Iman dan Taqwa serta kehati-hatian kita sering naik turun, karena memang jiwa manusia sifatnya begitu. Maka seiring dengan ini maka Taqwa adalah proses yang tidak akan pernah berhenti, berdinamika, dan pluktuatif. Maka wajar saja bila ayat-ayat tentang taqwa kebanayakan memakai fi’il mudhari´pada redaksinya, karena memang taqwa adalah harus dipertahankan masa sekarang dan masa mendatang. Namun begitu kita harus memilki predikat Muttaqin, yang saya memaknainya sebagai orang yang berproses menuju taqwa. Maka dengan ini kita mesti memperbanyak ibadah agar ketaqwaan kita semakin bertambah.
Terakhir di Bait Ikhfa dicantumkan kalimat;
تُقًى ضَعْ ظَالِمًا
Kalimat itu – maaf bila salah memaknai – Berarti kita harus meninggalkan kezaliman. Kezaliman itu banyak macamnya. Ada yang Zalim terhadap dirinya dan orang lain. Orang yang meninggalkan kezaliman adalah orang yang bisa disifati dengan sifat adil yang mampu menempatkan sesuatu tepat pada tempatnya. Semakin besar lingkup keadailannya maka semakin besar pula peluang ia dapat pahala besar. Begitu pula siapapaun orang yang kezalimannya semakin bertambah luas dan di rasakan oleh banyak orang, maka sebenarnya ia telah menumpuk kayu bakar untuk menghanguskan dirinya sendiri. Oleh karena itu penguasa yang adil mendapat kehormatan dari Allah. Dan penguasa yang berbuat zhalim akan mendapat kehinaan dalam pandangan Allah.

Masih ada kelanjutannya, Insya Allah di kesempatan berikutnya …



logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.