Merenungi Kisah-Kisah Masa Lalu

Sebagaian besar kandungan kitab suci Al-Qur'an Al-Karim adalah kisah. Gambaran cerita hidup orang-orang dahulu adalah hal yang sangat berpengaruh untuk kehidupan kita yang akan datang. Kesalahan-kesalahan masyarakat manusia di masa lalu merupakan cerminan agar kualitas hidup kita lebih meningkat dengan tiak melakukan kesalahan-kesalahan itu. Begitu pula kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh manusia-manusia di masa lalu juga merupakan bahan agar kita berkaca dan mengikutinya.

Ada kata-kata mutiara bahwa kalau kita ingin sukses maka harus belajar kepada orang-orang sukses.

Para Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia yang diberi karunia yang besar sebagai pembawa petunjuk dengan risalah yang Allah Ridhai. Keberkahan hidup yang penuh taat merupakan suri tauladan yang sangat lengkap.

Ada yang pernah mencicipi nikmatnya tinggal di surga bersama istrinya namun kemudian terpedaya oleh makhluk terkutuk sehingga dengan kasih-Nya Allah menempatkan mereka ke dunia. Dari sini kita banyak mengambil faedah, diantarany -- mohon koreksi bila saya salah -- manusia harus tetap waspada akan kejahatan dirinya sendiri yang suka mengajak kepada hal-hal yang rendah dan hina, menerjang larangan-larangan Allah dan tidak melaksanakan perintah-perintahnya. Kemudian setelah itu cepatlah bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Waktu dan tenaga, daya dan upaya harus terkondisikan untuk bertaubat. Karena kita sering khilaf, karena kita sering berdosa, karena kita suka merasa tidak berdosa, karena kita suka mengaanggap remeh dosa, karena kita suka terus-terusan berdosa, dan memang kita niscaya dalam berdosa. Maka basulah noda-noda dosa dengan bertaubat dann beristighfar seumur hidup kita, sebagaimana Nabi Adam as beristighfar menghabiskan waktu ratusan tahun dan di banyak tempat yang ia lalui. Adam as mengajarkan bahwa satu dosa saja harus diwaspadai, tidak dianggap remeh dan kecil, karena ampunan adalah haknya Allah dan kita hanya berharap dan memohon ampunan dengan sungguh-sungguh kepadanya, adapun apakah dia mengampuni atau tidak kita tidak tahu. Maka dengan ini takutlah kita kepadanya dengan terus mendekat kepada-Nya.

Faidah lain dari kisah bapa kita ini adalah Kemuliaan adalah ketika taat kepadanya dan tidak merasa memiliki kemuliaan. Karena bila ma'shiat yang dilakukan dan manusia memuliakannya setinggi langit sesungguhnya dalam pandangan Allah sudah tidak mulia lagi. Seperti Nabi adam yang harus hijrah ke bumi setelah ia turun dari surga karena lupa akan janji kepada tuhan-Nya. Dan dunia ini bukan tempat yang hina bila didalamnya disemai ketaatan. Bahkan bumi ini adalah surga sebenar benarnya sebelum surga diakhirat dapat dimasuki dan dinikmati. Syaratnya adalah taat dalam ibadah kepada Allah SWT.

Maka itulah renungan kali ini --- wallahu a'lam --- kepada para pakar sirah dan qishah serta para ahli dan kaum muslimin saya mohon maaf atas keterbatasan ilmu yang ada pada diri saya ...

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.