Menembus Qalbu

Bismillahi maa Syaa Allah ...

Hati yang kering kerontang, gersang bagikan gurun sahara, kaktus yang berduri serta hewan liar gurun nan buas berkeliaran, sepi, mencekap, dingin, dan panas nan terik, setiap saat aura kematian dan bahaya selalu mengintai. Itulah gambaran hatiku yang membatu karena tak diguyur renungan ayat-ayat tanda kebesaran Allah.

Hati yang ingkar dan menjauh dari Allah akan sangat gersang. Benih-benih kebaikan yang ditanam akan layu dan hanya tumbuhan berduri yang tumbuh kerdil serta lumut-lumut yang mrnutupi bauan-batuan cadas.

Hati yang jauh dari Allah dirasa sangat sesak namun sepi, tepatnya hampa tak tau arah tujuan, bagaikan kemudi yang tersesat di tengah kota yang bayak marka dan tanda. Hati yang tidak lagi mengenali rambu hingga berani menerabas dan menyalip tanpa aturan.

Hati yang berpaling dari Allah akan merasa sakit bila merasa kehormatan dirinya tercabik, namun bila kehormatan Allah, Rasul, dan agamanya mencoba dikotori ia tetap tidak bergeming dan beranggapan bahwa agama bukan dirinya, malah ia berlagak seperti orang-orang pandir yang bersama musa ketika mereka menyuruh Musa as dan Tuhannya untuk berperang sementara mereka duduk-duduk santai bermalas-malasan.

Hati yang jah dari Rahmat Allah akan merasa terguncang apabila ada saudara sesama muslim yang beroleh limpahan karunia, dia beranggapan Alah tidak menganugerahkan karunia yang kurang lebih sama kepada dirinya, dan ia lupa bahwa dalam dirinya berjuta-juta --- Allahummaghfirlana -- ni'mat yang belum disyukuri. Jadila ia menghjat Allah dan menyalahkan taqdir dan manusia lain, sesaat kemudian ia berbalik arah memusuhi dan membenci kawan yang dapat karunia itu, ia iri hati padanya pada Allah lah yang memberikannya. Dia lupa sikapnya itu merupakan tuduhan bodoh terhadap tuhannya yang Maha Mengetahui dan Maha mengatur, Dialah Rabbul 'Alamin.

Hati yang sombong itu tidak akan menerima nasihat meski diungkapkan dengan bahasa kiasan paling lembut sekalipun. Ucapan-ucapan itu bagaikan duri ikan yang mencekat kerongkongannya sehingga ia muntahkan seketika seluruh isi perutnya, atau bagaikan debu yang masuk ke dalam matanya sehingga rasa gatal ingin segera menggaruk dan mengucek tidak akan bisa ditahannya lagi. Sesaat kemudian jadilah ia bertambah sombong. Ia membuang iman dan meremehkan manusi, ia tolak segala kebaikan, dan yang dinamakan benar adalah atas standar dirinya ...

Astaghfirullah, Ushikum WAIYYAYA bitaqwallah

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.