Jama'ah Shalat 'Isya yang semakin Surut

Setiap tempat yang saya singgahi pasti ada mesjidnya. Karena saya belum ke luar negeri jadi saya hanya berbicara di dalam negeri saya yang mayoritas penduduknya muslim. Sebagai negeri muslim tentunya fenomena Shalat Jamaah lima waktu sudah tidak asing lagi.


Dari pengamatan selama ini ternyata peserta terbanyak shalat jama'ah adalah Jama'ah Shalat Maghrib. Sedangkan yang paling sedikit pesertanya adalah Jama'ah Shalat Isya dan Shubuh. Padahal kewajibannya sama.

Sepertinya kita harus menggunakan pisau analisis yang tajam untuk membedah penyakit ini. Namun tentunya pisau analisis yang tajam ini harus digunakan oleh ahlinya. Bagaikan piau tajam yang digunakan oleh para tukang jagal di pejagalan hewan. Sekali tebas bisa menghasilkan sayatan yang rapi dan pas sasaran. Saya tidak berkompeten dalam hal ini. Namun tentu keheranan dan rasa penasaran harus pula ada jawaban awal yang memancing pertanyaan lain yang lebih membangun.

Pertama persoalan ilmu
Ini selalu menjadi yang pertama. Bahkan keimanan yang benar bermula dari persoalan ilmu. Dengan ini kita harus lebih pandai dalam memasarkan agama Allah ini dengan lebih memikat dan menarik. Kata orang bijak bila kita ingin semangat dalam memperbuat sesuatu maka kita harus tahu ambaknya (apa manfaatnya buat aku). Bila kita tahu fadhilah atau keutamaannya baik dari sisi pahala, kesehatan, pengendalian diri, dan kwalitas hidup yang lebih baik, maka kita pasti akan segera melaksanakannya berjamaah di amsjid meski sulit dan berat. Namun bukankah semakin kita berangkat semakin besar pula jihad kita. Karena persoalan ikhlash itu bukan persoalan cespleng langsung ikhlash. Namun ikhlas itu adalah proses yang penuh kesungguhan untuk berikhlash.

Kedua, ini turunan dari yang pertama. Banyak anggapan salah
Karena ilmunya kurang hingga terjadilah asumsi keliru. Ada yang menyatakan waktunya panjang. Tapi perkataan ini dengan maksud santai-santai dan malas-malasan. Seharusnya kita ingat pelajaran yang lalau bahwa santai-santai dan malas-malasan adalah perangkap setan yang halus bagaikab benang sarang laba-laba namun mematikan karena di balik halusnya ada sesuatu yang buas yang sangat mematikan. Semakin terasa malas semakin keras kita berusaha menhalaunya. Maka peperangan besar dalam diri harus dimenagkan oleh akal yang cerdas. Bila kita menag kita telah memenagkan perang yang besar. Dan ikhlas terus diupayakan.

Ketiga, terbawa lingkungan yang kurang baik
Ada dua kondisi pasti dalam kita bermasyarakat. Pertama kita mempengaruhi, kedua kita yang dipengaruhi. Pengaruh baik tentu sangat diharapkan. Dan kita mampu mempengaruhi orang lain untuk berbuat baik tentu istimewa. Maka berusaha menciptakan lingkungan yang rajin shalat berjama'ah adalah medan da'wah yang bisa dilakukan siapapun yang bersungguh-sungguh.

Keempat, Tauladan yang buruk dari Orang Tua
Sebagai orang dewasa yang lebih dahulu hidup di dunia, yang diharapkan dari orang dewasa adalah keteladanan dan arahan yang baik. Bila para orang Tua hobinya nongkrong dan nonton TV melulu lalu anak-anak mau nurut sama siapa.

Ini adalah yang mampu dijelaskan oleh hamba yang miskin ilmu ini. Mohon maaf bila banyak yang salah. Yang jelas kita jangan berhenti belajar dan mengikhlaskan amal.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.