Istighatsah Kubra: Doa Tulus untuk Si Sulung

Setelah belajar keras dengan pendalaman dan pengayaan bahan UN yang sangat padat, dengan sadar diri akan daya dan kemamapuan yang terbatas kami menyadari bahwa kepintaran dan daya upaya kami tidaklah seberapa. Hanya menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah dan memohon ridho-Nya membuat makna dari usaha ini semakin berarti.

Jum'at 10 Maret 2015 tepat pukul 07.00 kami berkumpul di dekat kantin untuk berdo'a. Kami memang belum punya aula atau masjid yang besar yang bisa kami jadikan untuk shalat dan mengadakan majlis ilmu. Semoga Allah akan memberikan masjid kepada kami. Kami menggelar Baligo besar bekas dan tikar kemudian duduk rapi bersimpuh.


Sesaat kemudian acara kami maulai. Guru senior kami, Bapak Bahrudin langsung mengawali acara dengan memberikan anasihat kepada siswa-siswi kami, khususnya kelas XII yang akan menghadapi UN. Dengan nada bergetar dan terlihat sangat berharap siswa-siswinya menjadi orang sukses, beliau dengan lancar mengutarakan harapan dan doanya. Kami yang menyimak merasakan kuatnya harapan itu.


Setelah itu kami melanjutkan acara dengan bertawassul, dan berdzikir. Acara kedua ini dipimpin langsung oleh Bapak Hasan Arifin. Kami mengawalinya dengan Syahadat dan istighfar Kemudian berdzikir. Dalam untaian dzikir ini suasana akrab guru dan murid sangat terasa. Guru yang sayang kepada para siswanya berpadu dengan semangat dan penghormatan generasi muda yang dididiknya.


Selepas itu kami mengaji surah Yaasiin. Sebelumnya selalu kami kabarkan bila ada kesempatan baik di masjid Najatain ataupun ketika sedang berada di sekolah, bahwa hari jum'at kalian harus membawa Al-Qur'an. Pagi itu kami membacanya dengan tartil dan khusyu.


Acara dilanjutkan dengan, nashiha, renungan, motivasi, dan wejangan dari Bapak Deni Sugilar. Suasana menjadi tenang dan mengharukan. Nasihat Bapak Deni sangat mengena dan kemudian terlihat semangat di muka mereka setelah dimotivasi olehnya.

Suasana semakin mengharukan sesaat sebelum mushafahah. Para Guu dipanggil untuk mendekat ke tempat siswa-siswa kelas XII akan bersimpuh. Maka berbarislah para guru dan siswa dan tangisan Dede Sulaiman pecah sebagai tangisan pertama yang mengharukan sekaligus mengundang optimisme dalam setiap dada kami. Tangisan semakin kencang. Permohonan maaf dan do'a tulus para guru menyertai semakin membuat suasan akrab. Ucapan wejang dan nasihat keluar dari setiap lisan guru yang hadir.

Air mata yang penuh ketulusan telah tertumpah. Dengan iringan shalawat dan istighfar terus kami berputar. Tiga Ratus tangan lebih telah bertemu dan saling menghapus semua catatan dosa telah kami lakuakan. Akhirnya hanya kepada Allah kami haturkan semuanya.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.