Ini adalah catatan perjalanan Syarif dengnan Wita ke kota Bandung. Tujuan pokok dari perjalanan ini adalah membeli cincin buat acara tunangna kami pada hari Minggu - malam Senin tanggal 25 April 2015. Berati tiga hari setelah bidadariku Ujian Nasional kami akan langsung melaksanakan tunangan.

Maka tepat pukul lima saya sudah mandi, kemudian Shalat Shubuh, dan saya melanjutkan mengaji Yaasin sampai tamat, kemudian saya diminta makan dahulu oleh Ibu dan Bapak saya. Maka saya mengisi perut dengan tutug ranginang. Dengan satu kerat daging ayam, tutug sukses menyentuh lambung saya. Lalu Bapak memberikan saya uang yang Banyak yaitu Rp 900.000.- untuk saya pergunakan buat keperluan saya.





Setelah Pulul 05.30 saya langsung menjempaut Neng Wita ke rumah calon mertua. Setelah bersiap-siap kami langsung berpamitan dan langsung kami meluncur menuju Bandung. Sepanjang jalan kami bercerita ke sana kemari. Kami sangat bahagia dan kami tertawa bersama karena semua yang kami bicarakan semua terasa lucu dan mengundang tawa. Di pertengahan jalan saya merasa panas dan sakit di kaki. Sakitnya semakin menjadi-jadi. Saya berusaha menahannya. Maka setelah sampai d dekat terminal Ciwidey kami bersiap untuk sarapan pagi. Dan Neng Wita bilang “ … itu bubur” sambil nunjuk kea rah tukang bubur. “ya…” kataku, sambil langsung belok kanan menuju jongko tukang bubur. Alhamdulillah ternyata di samping tukang bubur itu ada toko mas. Kami langsung saja makan bubur. Dua mangkok bubur dan satu mangkok lontong setelah beberapa menit langsung berhasil kami habiskan.

Selama makan bubur itu kami bercerita tentang tanaman-tanaman ajaib pembantu perekonomian. Bersama tukang bubur ada seorang kenalannya, yaitu Bapak Muhammad Suja’I, mereka bercerita tentang menanam jahe dan jeruk purut. Saya langsung nimbrung karena saya berkeinginan untuk menam Jahe. Setelah itu neng Wita ngajak saya untuk ke toko mas sebelah. Beberapa kali ia meminta saya untuk segera k toko mas itu. Tapi karena saya lagi seru ngomongin Jahe maka saya bilang “ … benatr bentar ….”

Kemudian kami berdua meyambangi toko mas. Kami langsung disambut oleh para karyawati. Dan langsung saja neng Wita mencari cincin yang disukainya. Ada beberapa cincin mas putih yang dicoba dengan beberapa rupa dan bentuk yang menawan. Setelah Setengah jam memilih-milih akhirnya kami sepakat untuk membeli yang bentuk hati. Kemudian kami membeli tempat cincinnya juga yang berwarna merah berbentuk hati. Kami harus menunggu lama karena mas nya harus dibersihkan terlebih dahulu. Saat menunggu ini, kaki saya menunjukkan tanda-tanda tidak bersahabat. Badan aagak panas, saya meriang, kaki nyut-nyutan sungguh tidak nyaman.







Setelah dari toko mas, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Bandung. Sesampai di Perkebunan teh dekat Ciwalini kami turun dulu untuk berpose, karena tempatnya indah, ada petak-petak kebun the yang sudah dirapikan dengan kontur tanah yang berundak-undak.



Setelah puas berpose, denga n langkah kaki yang semakin sulit, kami berdua melanjutkan perjalanan ke Masjid At-Taqwa KPAD Geger Kalong. Tujuan kami adalah mencari informasi perlombaan Hifzhil Qur’an . Sesampai di Masji Raya Bandung Ternyata kami tidak bisa belok kiri karena ada penjagaan ketat berkaitan dengan akan dilangsungkannya KTT Asia Afrika yang akan mengambil tempat di Asia –Afrika Bandung. Maka otomatis jalan Asia- Afrika disterilkan. 


Kami mencari jalan alternative dan Alhamdulillah kami langsung bisa masuk. Dan kami langsung naik ke play ofer Pasopati yang cantik itu. Setelah itu kami belok kanan dan kemudian belok kiri ,menuju ITB - Kebun Binatang. Terus ke atas dan belok kiri ke KPAD. Kami shalat Zhuhur dan Ashar dengan Jama’ taqdim. Setelah ngobrol dengan kang Yusnadi saya mendapat info bahwa perlombaan Hifzhil Qur’an belum ada kabar pelaksanaannya. Saya minta nomor HP kang Yusnadi dan titip pesan agar mengabari saya kalau ada perlombaan.


Kaki semakin sakit, namun saya tahan, dan lalu saya arahkan motor menuju ke Jatos (Jatinangor Town Squere). Ada dua tujuan ke sana yaitu membeli kebaya buat neng Wita dan nonton film. Kami singgah dulu di Cihampelas. Dengan dipapah sama neng Wita kami menyusuri pertokoan Cihampelas dan kami mask ke salah satu toko yang besar. Namun kami tidak menemukan kebaya.




Langsung saja kami ke Jatos (Jatinangor Town Squere), di perempatan Antapani kami melihat poster sebuah film yang bercerita tentang seorang pahlawan yaitu Tjokroaminoto. Lampu hijau menyala kami melanjutkan perjalanan. Pesantren Nurul Amanah sudah terlewati dan setelah sampai di Cileunyi kami singgah dahulu di rumah makan. 

Setelah itu kami lanjutkan perjalanan ke Jatos (Jatinangor Town Squere). Setelah beberapa menit kami langsung parker. Dan dengan langkah kaki yang semakin berat, dengan menahan sakit saya dipapah oleh dara cantik Wita Kusmiati. Dalam hati terbersit rasa kasihan pada sayangku ini yang harus memapah saya yang kesakitan. Untungnya dia tidak malu harus memapah saya. 

Lalu kami berkeliling mencari kebaya dan tas. Setelah beberapa menit kami mendapatkan sebuah toko yang menjual kebaya, bawahan dan atasannya. Saya tidak bisa menemani Neng Wita dengan intensif karena sakitnya di kaki bertambah parah hingga saya tidak kuat berdiri lama. 

Cantiknya neng wita pas fitting kebaya itu. Agak lama ia memilih milih kebaya itu. Setelah hampir satu jam memilih dan mencoba akhirnya kami sepakat untuk membrli yang berwarna pink seharga Rp 280.000,- Setelah itu kami berkeliling mencari tas. Ada tiga toko yang kami kunjungi. Setelah kami keliling lagi kami mendapati sebuah toko yang menjual tas-ras cantik. Alhamdulillah di sana ada satu tas yang disukai sama neng Wita. Warnanya dua ada pink dan abu, cantik sekali. Setelah membayar seharga Rp 200.000,- kami langsung ke luar. Dengan dipapah oleh neng Geulis kami turub tangga dan duduk sejebak di bawah pohon dekat parkiran. Saya membuka sepatu kemudian membuka kaos kaki dan Subhanallah kaki saya telah bengkak dan terlihat memerah dan disentuh saja sudah sangat sakit.

Kami menelephon nenek Titin namun tidak bisa dihubungi. Lalu kami menuju parkiran dan siap-siap untuk menuju rumah nenek. Untuk mengembailkan standar ke posisi awal dan masuk gigi satu saya meminta neng wita untuk melakukannya. Karena dua kegiatan itu dilakukan oleh kaki kiri dan kaki kanan saya yang sakit harus menhan, dan itu tidak mampu saya lakukan. Lalu kami keluar dari lingkungan Jatos (Jatinangor Town Squere). Kami akan menuju rumah Nenek. Kami sempat bingung takut Nenek tidak ada di rumah. Maka kami berencana akan sinngah dahulu ke Pasar Caringin tempat Nenek dan Abah berjualan. Di dekat Metro kami menelephon Mamah neng Wita di Cidaun dan SMS aa neng. Namun karena tidak ada jawaban pasti maka kami memutuska langsung saja ke rumah Nenek dan Abah. Untuk parker motor di dekat rumah Nenek minta saja sama orang sana atau sama Ari cucunya Nenek.

Sesampai di dekat rumah Nenek kami, neng Wita langsung masuk gang menuju rumah Nenek, tidak berapa lama ia sudah datang dan mengajak saya ke rumahnya. Kami susuri gang sempit sampai mentok. Ada Abah sudah menunggu namun Nenek belum pulang begitu juga Ari.

Melihat saya yang berjalan tertatih-tatih Abah langsung melontarkan banyak pertanyaan dan mempersilahkan kami untuk segera masuk ke rumah. Saya yang sudah tidak kuat langsung rebahan dan meminta neng Wita memakaikan sarung tangan dan ciput serta sarung. Saya berbaring dekat Amih ibunya Nenek yang lagi sakit. Kepala saya sangat pusing, suhu tubuh semakin naik dan kaki serasa panas dan seakan mau copot.

Nenek datang dan melihat saya yang sakit langsung memberondong saya dengan pertanyaan seperti Abah tadi. Dan saya dipersilahkan untuk berbaring kembali. Kondisi tubuh semakin lemah. Ketika saya disuruh makan saya tidak menjawab dan sudah sangat pusing. Yang saya butuhkan memang bukan makan tapi saya butuh istirahat. Kemudian saya berusaha naik tangga dengan susah payah untuk tidur di lantai dua. Alhamdulillah setelah merasakan panas dingin yang hebat, Allah menidurkan saya hingga pukul tiga. Saya belum shalat dan harus ke bawah mengambil air wudlu. Turun tangga sungguh perjuangan yang berat. Setelah di WC saya naik tangga lagi lalu shalat dan kembali berbaring. Setelah adzan Shubuh berkumandang saya langsung Shalat lalu bebaring lagi sampai calon istriku yang cantik datang melihat kondisi saya.

Setelah agak siang aya turun ke lantai bawah lalu mandi. Kami disuguhi bala-bala dan nasi kuning untuk sarapan. Kemudian setelah semuanya beres kami langsung pamitan dan mohon do’a resti kepada Nenek dan Abah. Kami siap-siap pulang. Motor terpaksa diparkirkan dan dibawa kedepan oleh Ari. Standard an gigi satu seperti biasa oleh neng Wita. Lalu motor kami melaju dan stop dulu di pom bensin. Rp 20.000,- sudah berisi ful bensin motor kami. Kami lanjutkan perjalanan terus sampai soreang dab menjelang terminal saya berhenti di dekat toko swalayan karena saya nerasakan sudah tidak enak duduk. Kemudian saya lanjutkan perjalanan melewati terminal Ciwidey lalu singgah di toko pertanian untuk membeli benih Pepaya. Namun kaena tidak ada maka saya membeli benih Terong dan Cabai. Lalu kami melanjutkan perjalanan melewati Kawah Putih, Patenggang, Rengganis sampai tibah di warung Bu Haji di Purut. Kami parker dahulu untuk ke WC dan sempat bercakap-cakap sebentar dengan Bu Haji nya yang sudah kenal kami sebelumya.



Kaki semakin bengkak dan panas. Kami melanjutkan perjalanan dengan kondisi badan saya terserang demam tinggi. Semakin lemah badan terasa. Dan sepertinya saya membutuhkan istirahat total. Sampai di rumah neng Wita waktu menunjukan pukul 11.30 menjelang Juam’atan. Saya merasa tidak memungkinkan untuk jum'atan dengan kondisi fisik seperti ini. Karena demam tinggi dan rasa sakita yang mendera akhirnya yang saya butuhkan adalah tertidur dan istirahat karena setelah demamnya turun saya akan makan banyak. 

Setelah berbaring agak lama saya makan bersama neng Wita, dan setelah itu neng Wita menelepon kakanya meminta mengantar saya ke rumah. Selang beberapa saat ia datang dan saya langsung pamitan. Saya dibonceng. Neng Wita jalan duluan dengan motor cantiknya, saya dibonceng oleh Aa jalan belakangan ngikutin neng Wita. Sampai di rumah saya dasambut oleh teteh. Dan sesaat kemudian semakin banyak keluarga dan tetangga menengok. Terima kasih semuanya. Untuk mu Neng byi haturkan banyak terima kasih…

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.