Empat Pesan Guruku untuk yang akan menikah

Pada tanggal 10 Agustus 2014, sahabatku yang akan menikah mendapat pesan special dari guruku sekaligus guru sahabatku itu. Pesan ini disampaikan dengan penuh wibawa dan rasa kasih sayang. Getarannnya begitu terasa di hatiku. Seolah-olah pesan itu adalah pesan untukku. Pesan itu dikhususkan untuk sepasang calon pengantin juga hadirin yang hadir dapat mengambil manfaat darinya. Pesan ini sejatinya adalah pesan dari Rasulullah Saw kepada sahabatnya yang tercinta yaitu Abu Dzar Al-Ghifari.. Berikut kutipannya:

“Ananda.. sebentar lagi engkau akan menikah, engkau akan menempuh kehidupan yang baru, kehidupan yang jauh berbeda dengan kehidupanmu dikala masih sendiri. Engkau akan menempuh perjalan yang panjang menempuh masa depan.” Berumah tangga adalah anugerah. Banyak insan yang mengnginkan berumah tangga. Mereka membayangkan nikmatnya bersuami atau beristri. Mereka mengkhayalkan manisnya dunia setelah berumah tangga. Mereka berpikir pastilah hidup terasa ringan karena disampingnya ada seseorang yang bias meringankan beban hidupnya selama ini. Terus seperti ini, berharap taka da sedih, selalu gembira dan bahagia.”

“Anakku.. berharap matahari tidak tenggelam atau mengharapkan bulan selalu bercahaya adalah harapan yang tidak tepat, begitu pula beranggapan setelah menikah kita akan selalu bahagia merupakan harapan yang tidak pada tempatnya. Apalagi kita ingat bahwa pernikahan telah merupakan pertemuan dua insan yang memiliki perbedaan karakter dan adat istiadat, berbeda pemikiran dan kemauan, tentulah akan banyak yang harus kita benahi dengan sikap yang bijaksana” “Karena perjalanan Anada berdua begitu panjang, Bapak berpesan dengan pesan dari Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari.”

Pertama "jaddid safinataka fainna al-bahro ‘amiiq” “perbaharuilah perahumu karena lautan teramat dalam” “kita boleh mengambil hikmah dari sabda Rasul SAW ini, bahwa sebelum engkau menikah sebaiknya ananda memperbaharui niat dan keikhlasan ananda untuk menikah. Tetapkanlah di hati Ananda untu selalu meluruskan niat. Niat kita dalam menikah adalah semata-mata Karena Allah SWT kemudian mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Murnikanlah niat Ananda berdua hanya Karena Allah SWT.

Kedua, "khudz azzada kaamilan fainnassafaro ba’iidun” “bawalah bekal yang cukup karena perjalanan sangat jauh” Melalui sabda Rasul ini kita bias mengambil pelajaran, khusus buat ananda bahwa ananda harus membawa bekal yang cukup memadai ketika hendak menikah, ada modal iman, Ilmu, materil, spiritual, keahlian, dan kemauan keras untuk menafkahi istri, anak, dan keluarga dengan rizki yang halal. Bila diperjalanan nanti kita kurang modal maka perjalan akan terhambat. Ketika itu terjadi kita segera melakukan usaha untuk menambah bekal kita. Tentunya memersiapkan bekal sebelum berangkat akan lebih tepat disbanding harus mencari bekal ditengah perjalan”

Ketiga, "Khaffifil himla fainnal ‘aqabata ka-Uud” “ringankanlah beban yang kau bawa Karena tanjakan teramat tajam” Anada.. sebelum menikah ringankanla beban, beban dosa, khilap, dan kesalahan. Mohonkanlah ampun kepada Allah atas dosa –dosa yang telah diperbuat. Mintalah pengampunan kepada orang-orang yang pernah kita sakiti, mohonlah keridoan mereka. Terutama sekali kepada orang tuamu yang selama ini mencurahkan perhatian untuk kebahagianmu.”

Keempat, "akhlishil ‘amal fainnan naaqida Bashir” Ikhlaskan segala ‘amal. Murnikan segala ibadah dan ketaatan. Luruskan niat selalu. Menikah dan amalan-amalan yang lain bukun untuk ayah, ibu, istri, dan anak. Tapi semata –mata mmentaati perintah Allah SWT.” Ananda.. demikianlah yang dapat Bapak sampaikan saat ini. Semoga rumah tanggamu nanti diberkahi oleh Allah yang Maha Kuasa, dan dijadikan keluarga sakinah mawaddah warahmah, amin.” Demikian kutipan dari pesan guru saya untuk pengantin baru dan pengantin yang sedang memperbaharui kehangatan keluarga, semoga bermanfaat.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.