Bunga-Bunga Mekar di Taman Hati

Hati manusia adalah yang paling cepat berubah. Detik yang lalu ia menyukai, sedetik kemudian ia membenci. Kemarin yakin hari ini kufur, pagi-pagi ridha sore hari ngedumel. Itulah gambaran dari sifat manusia yang suka berkeluh kesah dan suka lupa akan hakikat dirinya. Terkadang ia lupa bahwa dirinya adalah makhluk lemah namun tiba-tiba ia menjadi pemabangkang Allah yang paling depan, mengagkan dirinya sebagai tuhan, dan menyangka akan menyaingi dan mengalahkan Tuhan.

Terkadang juga ia melupakan dirinya sebagai hamba Allah yang mulia dalam hal penciptaannya. Namun sedetik kemudian ia menghinakan dirinya dengan melakukan perbuatan-perbuatan hewan yang lebih rendah dari dirinya, rakus, sombong, tak tahu diri, lupa diri, lupa Allah, berenang di lautan nikmat karuni-Nya hingga lupa daratan.

Catatan dalam hidup saya adalah, bila sombong, riya, sum'ah, takabbur, dan ujub terbersit dalam hati dan pikiran atau sudah terlanjur dalam perkataan dan perbuatan, adalah segera beristighfar dan memohon ampun. Permohonan ini akan menyuburkan kembali hati gersang yang tertutup lapisan-lapisan karat noktah-noktah dosa. Hati yang peka sehingga akan cepat kembali bila telah jauh dari tuntunan Allah, Kemudian cepat-cepat kembali berpegang dalam bimbingan agama Islam. Hati yang sejuk sehungga sangat nyaman dalam merenungi hikmah hidup dan ajaran Allah yang dijelaskan oleh para Rasul dan para pewaris risalahnya. Hati yang bersih sehingga memancarkan perkataan dan perbuatan yang jernih jauh dari kerendahan dan kekotoran. Hati yang lapang sehingga Ridha akan semua yang telah ditetapkannya. Hati yang bertawakkal dengan membangkitkan semangat juang dan semakin berkorban atas dasar harapan kepada Allah. Hati yang dipenuhi dengan tangis bahadia atas taufik-Nya dan tangisan ketakutan akan dosa yang dilakukan.

Mendengar kabar dari Rasulullah melalui lisan para pewaris risalahnya hati semakin berbunga, "barangsiapa mendawamkan istighfar maka Allah akan menghilangkan kesedihannya ..." Wah ini mantap sekali, saya suka ini. Saya sangat berbahagia, hati yang sedih karena rasa takut kepada Allah atas dosa-dosa yang menumpuk berbukit-bukit, tinggi bergunung-gunung diampuni karena beristighfar sebagai cerminan kesungguhan bertaubat. Bagaimana sedihnya tidak hilang padahal kita dikasih Taufik sehingga bisa beristighfar, sedangkan istighfar dapat mendatangkan Rahmat dan Ampunan Allah, kalau sudah dikasi Rahmat oleh Allah maka artinya kita dikasihi dan diridhai, itu tandanya hidup akan barokah dsiatas taufik yang membawa kita kepada keta'atan berikutnya. Belum lagi Ampunan yang membuat Allah Ridha kepada kita yang tadinya berdosa, dosa terhapus berarti kita akan selamat di dunia dan akhirat, dosa terhapus berarti kebaikan akan bertambah dan kuat, itu alamat kita akan banyak pahala karena Allah telah ridha, itu tandanya kita akan berleh sa'aadah dan akan tetap barakah dalam jannah.

Belum lagi kalimat berikutnya, ternyata selain menyuburkan hati, istighfar juga menyuburkan bumi, air hujan akan turun membawa rahmat Allah, membasahi bumi tanpa mendatangkan bencana namun membawa kebaikan-kebaikan. Tanah akan subur, tumbuh-tmbuhan kan tumbuh dengan baik hingga menghasilakan segala kebutuhan manusia dengan penuh gizi, kebaikan, dan manfaat. Hewan-hewan teernak akan berkembang dengan sehat, kuat, banyak susunya, bagus telurnya, cantik bulu dan kulitnya, gemuk badannya. Dan hewan-hewan buas dan binatang yang tidak dibudidayakan pun akan hidup berdampingan dengan manusia dengan perlakuan yang sangat baik.

Kemakmuran suatau wilayah akan semakin bertambah bila mereka mendawamkan istighfar sebagi tanda kesungguan bertaubat. Nanti akan ada negeri-negeri yang makmur dan sejahtera karena Allah telah mengampuni penghuni negeri tersebut.

Mari beristighfar agar hati kita menjadi taman indah tempat bunga-bunga iman tumbuh berwarna-warni menebarkan harumnya ke segala arah dan agar kehidupan kita di duni damai bagaikan di taman yang indah rupawan....

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.