Bersama Bunga Desa Kertajadi

Semenjak sang Musafir pergi karena salah bersinggah
Hatinya yang pilu berdarah-darah
Ia tertatih berusaha menciduk air segar sungai Cidamar yang tawar

Dengan sekuat daya ia susuri ceruk-ceruk pesisir
menuruni lembah datar
mendaki gunung tinggi
mencari asa yang tersesak ke segala arah
menjerit menggaung
menciba meraba adanya jiwa
karena barangkali ia sebenarnya ia sudah tak di dunia


sedikit mencubit kulit lengan
dan mata menyipit karena masih terasa sakit
ternyat ia masih tetap tinggal di dunia

Masih ada harapan tuk perbaiki semuanya
kata terlamabat sungguh nyata adanya
tapi perjuangan harus diteruskan
meski kawan telah berangkat dengan kafilah
meski debu-debu karapan sudah tak tampak lagi
sudah jauh rupanya mereka berlari

Merayap sungguh berjalan lambat
meski ada sesal mengapa baru tersadar
mengapa harus menangis terlalu lama
hingga tertinggal kawanan jalan

tetatih tapi tak akan berhenti
terhempas dan terjatuh tapi tetap harus bangun
pantai surut ke belakang
pantang mundur ke titik awal

Sahabat kan kukabarkan
disampingku ada bunga
kan kubawa selalu

Tunggu aku sambil kau melaju
aku kan susul kalian dititik takdirku




logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.