Aku Lebih Heran: Tidak Banyak Orang Tua di Masjid

Mendengar suara kakek-kakek mengumandangkan adzan hati bergumam. Tiadakah nak muda yang bersuara lantang berani mengambil alih tugas adzan. Mengapa mesti yang tua-tua yang adzan. Apakah pantas itu disebut kepastian. Atau hanya sebuah kebiasaan. Ataupun bisakah disebut kebiasaan. Atau memang benara-benar sebuah keharusan. Atau hanya kepantasannya saja. Nampaknya jawaban semua itu adalaha kata "bukan".

"Suaramu lemah dan sudah berkurang keindahannya, kek" begitu hati bergumam. Namun mungkin kakek juga punya jawaban, "kalau bukan saya .. siapa lagi, Nak ?" ya sudah tersiar kabar bahwa memang ke Masjid untuk beribadah dan menegakkan syiar-syiar Islam sudah sekian tahun ini semakin berkurang saja. Kalau pun ada itu hanya waktu-waktu tertentu saja. Jangankan yang muda-muda, yang sudah bangkotan pun masih enggan pula untuk datang menemui Allah di Rumahn-Nya.

Ada saya ingat bahwa kalau orang tua rajin ibadah itu biasa tapi kalau orang muda rajin ibadah itu luar biasa. Nah umumnya masyarakat muda ini belum mau datang ke masjid. Padahal kemuliaan hidup ada di dalam masjid dan nanti menyebarkan rahmat dan pancaran hikmah yang di dapat di luar masjid.

Dan tadi sudah saya opinikan, bahwa yang tua rajin ibadah itu biasa saja, namun nampaknya predikat "biasa" saja pun kini sulit. Karena di masjid-masjid yang tua-tua pun ternyata sedikit. Maka kalian orang tua janganlah terlalu memikirkan dan mempermasalahkan kami yang tengil dan badung dengan terus nyerocos bila kalian lebih buruk dari pada kami. Silahkan kalian datang ke masjid dan kami akan patuh dan turut bila golongan kalian masuk masjid. Ingatlah kalian pada asal dan halkikat awal adalah panutan dan kami pengikut, meskipun tidak selamanya begitu.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.