10 Cara Menghindari Kebencian Allah

Menjadi hamba yang dicintai Allah adalah salah satu harapan yang ingin diraih oleh setiap insan yang beriman. Mengabdi kepada Allah dengan melaksanakan aturan-aturan yang telah ditetapkannya adalah merupakan jalan yng harus ditempuh untuk mencapai harapan tersebut.

Allah swt dzat yang maha Pengasih dan Penyayang memerintahkan kita untuk beribadah dan selalau menggantungkan diri kepadanya. Perintahnya selalau disertai petunjuk pelaksanaannya. Ia sertakan wahyu dan mengutus rasul-rasulnya.

Catatan ini berisi kutipan dari perkataan para ulama yang mendalam ilmu dan kebijaksanaannya, disarikan daei kitab Nashaihul ‘Ibad karya Imam Nawawi Banten.
“Ada sepuluh perkara terdapat dalam sepuluh golongan yang dibenci oleh Allah, kekikiran orang kaya, kesombongan orang fakir, thama’ nya ‘ulama, Kurangnya rasa malu para wanita, cinta duni para orang tua, kemalasan para pemuda, kezhaliman para penguasa, ketakutan para prajurit, bangga diri para zahid, ingin dipujinya para ahli ibadah,

Dalam kutipan bahas Arabnya kalimat di atas adalah terjemah bebas dari kutipan berikut ini;

عَشْرُ خِصَالٍ يُبْغِضُهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالى مِنْ عَشْرَةِ أَنْفُسٍ:
البُخْلُ مِنَ الأَغْنِيَاءِ
وَالْكِبْرُ مِنَ الْفُقَرَاءِ
وَالطَّمْعُ مِنَ الْعُلَمَاءِ
وَقِلَّةُ الْحَيَاءِ مِنَ النِّسَاءِ
وَحُبُّ الدُّنْيَا مِنَ الشُّيُوْحِ
وَالْكَسَلُ مِنَ السُّبَّانِ
وَالْجُوْرَ مِنَ السُّلْطَانِ
وَالجُبْنُ مِنَ الْغُزَّاةِ
وَالْعُجْبُ مِنَ الْزُّهَّادِ
وَالرِّيَاءُ مِنَ الْعُبَّادِ

Dalam keterangan di atas saya seringkali merenung dan menghayati ternyata banyak bahaya dan benalu bagi amal kita yang tidak seberapa ini. Kata-kata hikmah ini marilah kita jadikan pedoman yang selalu mengingatkan kita apabila tersesat dan melenceng jauh dari arah dan sasaran yang sebenarnya.

Pertama; bila kita memiliki ni’mat maka janganlah kita bakhil menggenggam erat-erat apa yang ada dalam genggaman tangan kita tanpa memberikan sedikitpun kepada orang lain. Padahal semua adalah milik Allah dan kita hanya dipinjami dan diberi hak pakai sesuai dengan yang semestinya. Bila kita enggan berbagi atau ketika kita mau berbagi hanya memberikan sesuatu yang sudah tidak kita sukai, maka bila begitu kita harus waspada dan segeralah kembali dermawan. Ni’mat yang kita sedekahkan akan semakin bertambah berkahnya.

Kedua; bila kita tahu akan diri kita yang membutuhkan rahmat Allah maka kita tidak boleh sombong dengan apa yang ada sementara pada diri kita. Jangan merasa semua yang ada dalam genggaman tangan kita dan penguasaan kita itu semua atas ilmu dan kepandaian kita. Maka bersikap rendah hati, menerima kebaikan dan kebenaran serta tidak meremehkan manusia adalah cara kita agar tidak sombong.

Ketiga; janganlah kita merasa punya hak lebih atau merasa berhak atas bagian yang lebih dari bagian rata-rata orang hanya karena kita punya ilmu lebih. Berharap untuk mendapatkan banyak penghormatan dan pengagungan itu tidak layak bagi cendikiawan yang takut akan murka Allah swt dan beriman kepada hari akhirat. Perlakukanlah diri agar merunduk hanya kepada Allah dan menghormati manusia karena meneladani Allah yang telah memuliakannya. Orang tidak dikatakan bersyukur sebelum ia membalas budi dan berterima kasih kepada sesamanya.

Keempat; hendaklah kaum wanita memilki dan menggenggam teguh dan menguasai benteng perlindungan dirinya yaitu malu. Sikap ini adalah rumah yang nyaman dan benteng yang kokoh. Dan juga sifat malu yang ada pada para wanita adalah baik dan istimewa sedangkan sifat malu yang ada pada para lelaki adalah lebih istimewa. Malu yang benar adalah malu karena Allah. Malu bila kita mendurhakai Allah yang telah begitu baik menganugerahkan berjuta-juta ni’mat yang kebanyakan belum pernah sedukitpun kita minta kepadanya.

Kelima; bila badan kita telah renta, kekuatan tubuh sudah mulai melemah, keperkasaan yang ada pada jasad telah berangsur melemah, maka seharusnya segeralah kembali menuju kepadanya. Hidupkanlah iman dan nyalakan kembali cahayanya, karena sebentar lagi kita harus menyusuri jalan panjang untuk mempertanggng jawabkan semuanya setelah kita tutup usia. Bila memang kita masih cinta kepada dunia, maka berikanlah dunia itu untu kejayaan islam, berikan ke pesantren, yayasan-yayasan dakwah dan social islam, orang-orang miskin, dan anak-anak muda yang membutuhkan modal usaha, untuk engkau tagih kembali sebagai bekal nanti di akhirat.

Keenam; Pemuda mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada pemuda mu’min yang lemah meskipun pasti semua mu’min baik tua ataupun muda baik dalam pandangan Allah. Maka singkirkanlah sifat malas dan leha-leha, sibukanlah diri dan kejarlah kesempatan dan peluang yang ada.

Ketujuh; Bila kekuasaan, posisi, jabatan, dan wewenang ada dalam genggaman dan pengaturan kita, mak buatlah itu untuk seluas-luasnya kepentingan sesama. Belalah yang terzhalimi, kuatkanlah yang lemah, bangunlah yang hancur, satukanlah yang tercerai, huburlah yang sedang dilanda kesedihan. Janganlah berbuat aniaya dan durhaka. Karena jatuhnya pemimpin adalah kesengsaraan bagi rakyatnya.

Kedelapan; jadilah tentara dan prajurit yang mamapu mengelola rasa takut menjadi positif. Manusia dianugerahi perasaan takut. Dan orang pemberani bukanlah orang yang tidak punya rasa takut atau hilang sama sekali. Namun orang yang berani adalah orang yang takut namun ketakutannya ia kelola dengan baik.

Kesembilan; Hilangkanlah rasa bangga terhadap diri sendiri dan menganggap ibadah orang lain tidak sebaik ibadah yang dilakukan oleh kita. Merasa telah sampai kepada derajat kehambaan dan lepas dari jeratan dosa-dosa adalah seburuk-buruk persangkaan. Maka syukurilah semua karunia. Karena atas ridhanya kita bisa beribadah, berdzikir dan berfikir.

Kesepuluh; tepislah selalu rasa ingin dipuji. Manusia punya kebutuhan eksistensi dan dihargai keberadaannya. Sering kali fitrah ini kebabalasan sehingga menghancurkan amalan yang tadinya khusus untuk keridhoan allah. Maka tangkislah rasa ingin dipuji tiap kali ia datang. Sesungguhnya perjuangan menangkis rasa ingin dipuji dan menjadi ikhlas adalah perjuangan yang sangat melelahkan dan menentukan.
Begitulah catatan kami. Mari merenungi dan mengamalkan …

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.