Tangis saat Bapak Sakit

Ada tetesan hangat yang menyusuri pipiku saat ini. Air mata mulai memanaskan pelupuk dan kelopaknya tak terasa mengalir di area wajahku. Bapakku sakit dan aku tidak bisa membelikannya obat dan tidak bisa membawanya pergi ke dokter. Aku tidak punya uang. Aku memang sudah bekerja dan punya penghasilan. Namun ternyata besar pasak-ku dari pada tiangku. Selalu saja tiap aku gajian tidak cukup. Dan selam ini pula ayh dan ibuku yang membiayayaiku. Aku telah dewasa bahkan umurku tak lagi muda. Tiga puluh tahun seharusnya aku telah mapan dan seharusnya aku punya perusahaan sendiri yang bisa menunjang kebutuhan bapak dan ibukku. Keadaan kenapa berbeda. Hari ini bapaku sakit. Batuknya sangat menyakitkan dan terdengar keras. Semua merontokkan rasa percaya diriku. seharusnya aku tidak boleh begitu. seharusnya aku terpecut dengan keadaan yang butuh ketangksan dan gerak cepat. Ada lagi yang membuatku miris dan malu. Bapak bersikeras untuk tetap pergi ke sawah. Padahal sakitnya membuatnya lemah. Aku tak sanggup mencegahnya. Aku pun tidak mampu menghandle pekerjaannya. Kupandangi beliau sampai beliau berjalan dan berbelok hingga hilang dari pandanganku. Tertegun sangat lama dan aku bergumam seharusnya ayah tidak bekerja. Lalu .... Belum lama ini aku kena cedera di kaki sebelah kanan. Aku tidak bisa berjalan. bapaku dan Ibuku lah yang merawartku. Dan dengan tubuh mereka yang renta membopong tubuhku yang besar dan berat. Hampir satu bulan aku seperti itu. Dan ibu bapaku mencurahkan perhatian yang besar padaku. Namun saat mereka sakit ... apa yang bisa apa yang telah aku lakukan untuk kesembuhan mereka .... nothing nothing nothing ....

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.