Membahagiakan Mamah

Usiaku semakin bertambah. Bukan hanya sebagai pemuda yang baru belasan tahun. Tapi kini umurku telah mencapai 30 tahun. Namun tetap saja seperti tidak ada perubahan dalam pribadiku. Childist dan sebutan-sebutan lain yang bersifat kekanak-kanakan masih bisa disematkan kepadaku. Sebenarnya aku tidak sepenuhnya seperti itu. Ada satu dua hal atau terkadang aku juga seperti yang bersifat dewasa dan berpemikiran matang. Namun setelah akau pikir-pikir itu hanya bagian kecil saja dengan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Aku tulis keresahanku ini sebab teramat bingung mengendong pertanyaan besar yang ada di punggungku. Bahkan mungkin terasa lelah aku berpikir tentang semuanya. Hingga menuliskan sebagian yang aku pikirkan menjadi pelepas sedikit penat di kepalaku. Sebenarnya akau sudah merasakan ada sesuatu yang menyiksa batinku. Disaat diri ini mulai menyadari berharganya bakti kepada orang tua ternyata belum sanggup mewujudkannya. Sering kali batinku menangis karena itu. Aku melihat kawan-kawanku telah bisa menunjukan cinta mereka terhadap orang tua. Ku lihat diriku masih jalan ditempat. Di saat orang lain telah berlari kencang sementara aku terhempas jatuh dan duduk termenung. Apa yang salah pada Diriku Sering Pula aku bertanya-tanya, apanya yang salah pada aku ini sehingga aku tidak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain. Padahal mereka adalah kawan-kawanku yang aku tahu seluk beluk dan liku-liku hidupnya. Lantas aku berpikir banyak hal pasti tidak aku ketahui tentang diri mereka itu. Mungkin lebih tulus, mungkin lebih ikhlas, mungkin lebih sabar, atau mungkin lebih serius dan sungguh-sungguh. Aku hanya ingin Mamah Bahagia Sesimpel itu memang keinginan terbesarku saat ini yang harus aku wujudkan. Kebahagiaan orang tua yang selalu aku harapkan. Senyuman yang dipenuhi perasaan bangga dengan anaknya. Tatapan mata yang penuh kasih dan perasaan berbunga-bunga karena nama baik anaknya. Satu saja diantara indikator itu adalah aku mestinya mapan dalam hal finansial. Memang selama ini aku masih saja merepotkan mereka dengan biaya hidup yang harus dipenuhi. Memang aku punya penghasilan, namun belum cukup, dan tanpa diminta ibu dan bapakku memberiku tambahan yang sangat banyak. Aku cuma bisa menatapnya dan tidak mampu untuk menolak karena memang aku membutuhkannya. Maafkan saya Bukan bermaksud untuk meeurunkan semangat kalian dengan tulisan yang tidak bermutu ini. Orang tua memang tidak mengharapkan materi dan balas jasa dari anak-anknya. Namun bagi yang punya keleluasaan rizki sangatlah mulia bila banyak yang dikasih itu banyak pula dikasihkan sebagi tanda kasi pada orang tua. dan bagi yang masih dalam kondisi seperti yang saya alami janganlah berputus asa teruslah berusaha dalam sabar dan tawakkal. Maafkan saya ....

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.