Kulantunkan Do'a saat melihat Ibu dan Bapaku Pulang dari Sawah

Munrgkin kalian aneh dan heran. Memangnya kenapa ? Tidak ada yang salah dengan pekerjaan kedua orang tuaku. Mereka adalah petani yang memberiku asupan makanan halal dan bergizi. Setiap hari aku makan hasil pertanian mereka sayuran segar yang sangat baik untuk kesehatanku. Dan ini sudah berlangsung lama. Sudah lama pula aku merasa asing dengan diriku sendiri. Merasa aneh dengan diri ini. Aku ini sarjana tapi dalam mencari penghasilan dan uang kemampuanku berada di bawah rata-rata. Memang semua ada takdirnya namun akau selalu bertanya kenapa. Orang yang tamatan SD bisa mapan dan sudah bisa memberi orang tua. Walaupun bukan balas jasa karena jasa orang tua lebih tinggi dari jasa biasa. Namun dengan begitu mereka sudah bisa membahagiakan orang tua. Mereka sukses dalam hal finansial. Sementara saya yang sarjana ini sampai saat tulisan ini aku publikasikan akau masih bingung dan bertanya-tanya. Semasa kuliah dahulu di benakku aku ingin mengangkat citra dan nama baik Ibu dan Bapaku yang termasuk bukan orang berada. Namun sekarang aku dihadapkan dengan kenyataan bahwa aku memang belum bisa melakukannya. Jangankan menempatkan orang tuaku di rumah yang besar dan lengkap perabotannya untuk iaya hidup sehari-hari pun akau masih keteteran dan dengan malu aku harus menerima pemberian orang tuaku yang sudah renta itu. Seharusnya aku Aku berpikir seharusnya aku yang sudah harus bisa membiayai kebutuhan hidupnya. Seharusnya mereka tidak lagi merasakan beratnya pekerjaan yang berat itu. seharusnya aku yang berjuang untuk mereka. Banyak yang seharusnya bisa aku mereka. Aku mungkin kebanyakan mikir dan ide. Walaupun dengan keadaanku yang seperti ini aku merasa sangat buntu dan tidak berguna. Saat Mamah Pulang Inilah satu lagi yang membuatku menangis. saat aku pulang dari pekerjaan bersamaan dengan kepulangan orang tuaku khususnya Mamah. Hatiku sangat menderita. Bukan aku tidak rela dengan pekerjaannya sebagai petani. Namun aku merasa itu sudah tidak boleh dilakukannya sementara usia mereka sudah sangat tua. Dengan keringat mengucur di sekujur tubuh dan pakaian yang lusuh penuh dengan kotoran, lumpur, getah dan tanah beliau hadir menghadirkan senyum tersungging di bibirnya. Aku terhempas di alam yang sangat aneh. Menatap Ibu yang aku cintai dalam rupa yang seperti ini. Lelah bukan karena kecapean keliling mall dan pusat perbelanjaan. namun lelah karena tubuh telah bergelut dengan tanah dan kunbangan lumpur. Maafkan saya Meski sering aku ungkapkan kalimat maaf kepadanya. Namun tetap saja itu belum cukup. Dan saya akan sangat merasa bersalah membiarkan mereka dalam keadaan seperti ini. Anak macam apakah aku ini. Putra macam apakah aku ini. Pesan Cintailah ibumu sekuat tenaga. Curahkan kasihmu padanya. Tunjukkan rasa sayang mu padanya. Berikan perhatianmu yang sangat besar akan mereka. Jangan menuruti perjalananku yang yang sempit ini. Yang luas rizkinya berikan yang banyak untuk mereka. Yang berkeadaan seperti saya jangan putus asa...

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.