Inspirasi dari Tanah Gelar Pawitan Cidaun

Dari perjalanan ke Gelar Pawitan banyak hal yang bisa diceritakan dan dijadikan inspirasi. Yang pertama, kami mendapati ada sekolah islam dasar yang disebut Madrasah Ibtidaiyyah yang masih tetap berjalan dan berlangsung menyelenggarakan pendidikan agama. Sekolah ini dengan ciri khasnya yang islami seolah bintang diantara ribuan bintang yang menerangi mayapada. Kami merasakan sangat kagum dengan keberadaanya dsebagai tempat pendidikan yang mengutamakan agamna sebagai bahan pendidikannya di tengah-tengah sekulerisasai dalam dunia pendidikan yang menyeret anak bangsa menjadi manusi yang tidak peduli dengan hal agama dan kepercayaan. Paham sekulerisasi ini sungguh tidak layak ada di bumi Pancasila yang berketuhanan yang maha Esa. Karena pada hakikatnya mausia yang menyingkirkan urusan Tuhan, Agama, dan Kepercayaan adalah manusia yang berbahaya yang mengangkat dirinya sendiri sebagai tuhan hingga kebenaran dalah yang dipandangnya benar menurut dirinya. Dari sini sophisme dan relativisme bahkan komunisme akan tumbuh dengan sunbur berkedok kemajuan zaman.

Yang Kedua, Di Gelar Pawitan ada varietas durian yang bekwalitas tinggi. Harumnya yang enak dan beraroma kuat. Tekstur daging buahnya yang lembut dan rasanya yang sangat manis tapi ada sensasi gurihnya seta beragam warna dan rasa yang pasti mantap banget di lidah. Saya berpikir dari tempat yangsulit di jangkau, di balik bukit, gunung, cadas, batu dan tanah merah itu ada surga yang pohon-pohonnya bercita rasa tinggi. Luar biasa ...

Yang ketiga, Saya sangat kagum dengan perjuangan orang-orang Gelar Pawitan dalam dunia pendidikan yamng sangat gigih dalam berjuang termasuk siswa-siswi kami yang berasal dari sana. Sebagian besar sangat ulet dan pintar.


Keempat, di sepanjang jalan kami tidak berhenti dengan gaya hidup orang sana yang penuh perjuangan. Sesekali kami berpapasan dengan para pengangkut kayu dari kebun dan hutan. Mereka menggunakan motor bebek btut membaea kayu ukuran panjang 4 sa pai 5 meter sangat banyak menuruni turunan tajam dan melewati tanjakan ekstrim serta jembatan rawayan dan belokan sempit, dan mereka berhasil. Sampai titik ini kami tertegun dan kagum. Ditambaha ada cerita bahwa membawa semen 6-8 sak semen bagi orang sana biasa saja. Padahal 6 sak semen sama dengan satu kwintal dan 8 sak semen sama dengan 4 kwintal. Luar biasa keterampilan mereka dalam berkendara ... Salut bung ... prok prok proookkk ...



logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.