Adventuring: Mencicipi Durian Langsung dari Tempatnya

Akhirnya rencana ke Gelar Pawitan (kampungnya Rumahnya Sri Wulan dan Santi)jadi kenyataan. Berawal dari cerita Sri Wulan yang mengatakan bahwa ayahnya telah menyediakan DURIAN khas GELAR PAWITAN. Setelah hampir-hampir enggak jadi, pada hari Jum'at Bapak Budi bertanya pada saya tentang jadi dan tidaknya berangkat ke sana. Saya bilang terserah bapak saja saya ikut.

Setelah itu saya berbicara juga sama Santi yang saya tahu dia orang sana juga. Dan setelah bertanya-tanya tentang Gelar akhirnya ia bersedia untuk pulang lagi ke kampungnya bersama kami. Saat itu saya bilang "ajakan pa usup neng" karena saya tahu Bapak Supriatna Yusup adalah saudaranya.

Sebelum pulang kami ngjak-ngajak guru lain yang ingin ikut dan akahirnya ada kesepakatan beberapa guru yang akan ikut.

Malam harinya saya menerima SMS dari Santi yang menanyakan jadi tidaknya keberangkatan ke Gelar Pawitan itu. Saya membalas "hayu neng ... OK".

Besoknya tepat jam 7.30 saya sudah ada di lokasi berkumpul yaitu di area MAS Al-Holiliyah Cidaun tempat kami mengabdi. Setelah semua berkumpul akhirnya Pukul 09.00 kami berangkat.

da beberapa jalur yang bisa dilalui untuk bisa sampai ke Gelar Pawitan. Ada dari Cipakis Belok Kiri. Ada juga yang melalaui Polohok. Ada juga yang melalaui Cikidang - Cimaragang. Dan kami memilih jalan yang dari Byuning - Polohok yang dirasa klebih aman walu tetap saja medan yang sulit bagi kami. kontur tanah yang bercadas rapuh dibalut tanah liat dan jalanan yang tidak rata dengan gumpalan dan cekungan di sela-sela batu-batu cadas itu.

Jalan ke Gelar Pawitan memang ekstrim kurasakan. Banyak sekali jalan yang sangat sulit untuk kami lewati. Ada Batu karang dengan perkasa mengapit jalan sempit kami. Ada juga jalanan yang berkoral yang menurun tajam dan menanjank dengan tanjakan yang cukup membuat ciutnya nyali. Ada tikungan tajam yang membuat adrenalin terbakar hebat. Jembatan rawayan yang sudah membutuhkan perbaikan dan pergantian. Pokoknya seru bila semua dinikmati. Maka dengan ini kami mengapresiasi orang-orang sana yang masih mau berangkat sekolah dan berjuang untuk hidup di balik batu, cadas, dan jalanan yang berliku itu.

Ini adalah poto di jembatan setelah turunan tajam yang kemudian ada tanjakan yang sangat tajam.


Setelah dua jam berjuang akhirnya kami sampai juga di rumahnya Sri Wulan dengan selamat. Tidak lama puala tuan rumah menghidangkan durian pada tiga piring penuh yang kami langsung lahap habis tak bersisa.

Setelah itu bapak Icang selaku tuan rumah dan ibu menyiapkan rambutan dan jus alpukat yang sangat menyegarkan di tengah dahaga dan rasa lelah yang mendera. Dan langsung saja kami ciduk dengan leluasa dan dua gelas jus alpuket sukses meluncur ke perut kami melewati kerongkongan yang terasa menjadi luas dan lancar saja.

Agak lama kami berdiam di Rumah Sri Wulan dan kemudian kami menuju rumahnya Santi yang jaraknya hanya 40 meteran dari rumah Sri Wulan. Dan di sana kami membuka dua buah Durian lagi dan sukses kami habiskan dengan kilat dan cepat. Durian Gelar Pawitan memang terkenal dengan kwalitasnya yang tinggi.


Perayaan (kalau boleh disebut begitu) berlanjut dengan shalat berjama'ah zhur di masjid setempat. Kemudian tuan rumah mengundang kami makan. Saya sempat menghabiskan satu kerat daging ayam dan yang paling nikmat saya makan bakar ikan yang rasanya sangat mengena pada lidah saya. namun saya tidak sempat menanyakan nama ikan itu karena agak malu kurasa.

Sebelum pulang masing-masing kami dihadiahi 2 buah durian. Maka kami memantapkan hati pulang setelah berpamitan.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.